Kembali

Anak Tidak Diimunisasi? Awas Ini Dampaknya!

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa imunisasi merupakan salah satu investasi kesehatan yang paling cost-effective (murah), karena terbukti mampu mencegah dan mengurangi kejadian sakit, cacat, dan kematian akibat Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yang diperkirakan 2 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya.  Hampir 1,7 juta anak di bawah lima tahun meninggal karena penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi. Sebanyak 19,3 juta anak tidak lengkap status imunisasi dasarnya. Lebih dari setengahnya (53%) berada di India, Nigeria, dan Indonesia.

Masa anak-anak adalah fase yang krusial  pada fase ini terjadi proses pertumbuhan yang berpengaruh pada kualitas kesehatan anak di masa dewasa mendatang. Oleh karena itu, memberikan imunisasi di fase ini merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan anak.  Krusial yang dimaksud adalah sangat diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak dan memberikan perlindungan terhadap suatu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, diantaranya yaitu Campak, Rubela, Difteri, Tetanus dan Kanker Leher Rahim.

Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk melindungi tubuh atau membuat tubuh kebal terhadap penyakit tertentu. Vaksin terbuat dari kuman yang sudah melalui proses pelemahan atau bahkan dimatikan. Imunisasi dapat memberikan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat sehingga merangsang terbentuknya zat antibodi. Pemberian vaksin akan melindungi tubuh anak terhadap infeksi sejumlah penyakit menular di masa mendatang. Tidak hanya menghindarkan anak dari serangan penyakit serius, vaksinasi anak juga bisa melindungi masyarakat yang lebih luas. Hal itu karena imunisasi membantu meminimalkan terjadinya penyebaran penyakit. Namun bagaimana jika imunisasi pada anak ini tidak dilakukan?

Berikut 3 dampak pada anak yang tidak diimunisasi:

  1. Sistem kekebalan tubuh buruk

Pada anak yang tidak menerima imunisasi, tubuhnya harus bekerja lebih keras dalam mengenali dan melawan kuman sehingga dapat menimbulkan gejala yang lebih berat dibanding anak yang sudah divaksin. Respon tubuh terhadap kuman yang dilemahkan (vaksin) dan kuman yang aktif (penyakit) akan berbeda dan ini dipengaruhi juga oleh kondisi kesehatan sang anak.

  1. Resiko penurunan harapan hidup

Vaksinasi menyumbang angka harapan hidup. Data menunjukkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap akan mudah tertular berbagai penyakit saat usianya masih anak-anak, sehingga angka harapan hidupnya menurun. Menurut data yang dilansir dari UNICEF, anak tidak menerima imunisasi lengkap lebih mungkin tertular berbagai penyakit, sehingga angka harapan hidupnya menurun.

  1. Resiko komplikasi penyakit lebih besar

Anak yang tidak menerima imunisasi lebih rentan mengalami berbagai macam penyakit. Padahal jika melakukan imunisasi dengan benar, maka dapat mencegah penyakit-penyakit seperti hepatitis, TBC, batuk rejan, dan difteri. Yang mana penyakit-penyakit tersebut merupakan penyakit berbahaya, menular dan berat. Tak hanya itu, anak yang tidak diimunisasi juga lebih rentan terhadap masalah kesehatan lain seperti campak, diare, pneumonia, kebutaan, bahkan malnutrisi.

Berikut ini Jadwal Imunisasi berdasarkan rekomendasi IDAI tahun 2023.

Referensi :

  • Good Doctor.Diakses pada 2024. Apa Saja Risiko dan Dampak yang Timbul akibat Anak Tidak Diimunisasi?
  • Halodoc.Diakses pada 2024.Imunisasi
  • Diskominfo Prov. Kaltim. Diakses pada 2024. Kemenkes RI Tekankan Pentingnya Imunisasi Anak Usia Sekolah Melalui Program BIAS
  • Unicef Indonesia. Diakses pada 2024. 7 konsekuensi dan risiko jika anak tidak mendapatkan imunisasi rutin
  • Hermina Hospital. Diakses pada 2024. Mengapa Anak Harus Imunisasi?
  • Dinas Kesehatan Jakarta. Diakses pada 2024. Anak Tidak Ikut Imunisasi? Ini Dampaknya
Penulis

Andini Sherara Lutfia

Administrator dan pengelola informasi resmi website Puskesmas Pakem.

Lihat artikel penulis →

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.